SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

THR Cuma Numpang Lewat ? Begini Cara Mengelolanya

Hari raya Idul Fitri atau Lebaran menjadi momen paling ditunggu oleh masyarakat, khususnya bagi para pekerja. Selain bisa libur panjang, tunjangan hari raya (THR) menjadi salah satu tradisi yang biasa didapat oleh karyawan di Indonesia.

Setelah satu tahun bekerja, atau disesuaikan dengan masa kerjanya, ini merupakan kewajiban setiap perusahaan memberikan THR. Lalu, biasanya dalam tradisi Lebaran juga dikenal dengan memberikan amplop atau angpao ke sejumlah saudara.

Namun, pengelolaan uang THR sering habis tanpa terasa dan enggak terdeteksi secara detil kemana pengeluarannya.

Sebelum kita mulai pembahasan tentang mengelola THR, apakah pernah terlintas di benak kamu tentang bagaimana sejarah awal adanya THR ?

Sejarahnya THR

ADVERTISEMENT

Kalau melihat unggahan yang sempat sangat viral tersebut memang benar bahwa THR itu semata-mata adalah hak kita. Namun ternyata ada sejarah yang cukup rumit di balik tunjangan itu sendiri. THR ini awalnya digagas oleh Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-6, Soekiman Wirjosandjojo. Pria yang sekaligus merupakan tokoh Masyumi ini pada mulanya hanya memberi THR pada pegawai di akhir Ramadan untuk menyejahterakan PNS.

Adapun nominal tunjangan yang diberikan sang perdana menteri saat itu adalah sebesar Rp 125 sampai dengan Rp 200. Jangan anggap nominal tersebut kecil ya karena uang segitu sudah setara dengan Rp 1,1 juta sampai Rp 1,75 juta untuk sekarang. Kabinet sang menteri bahkan tidak hanya memberikan tunjangan berupa uang, tetapi juga beras di setiap bulannya kepada pegawai. Dan memang hanya pegawai di kabinet yang dipimpin oleh Soekiman lah yang saat itu mendapat tunjangan bulanan maupun tahunan.

Pemberian THR awalnya juga diprotes

Siapa sangka THR yang sekarang ditunggu-tunggu dulunya sempat diprotes besar-besaran. Seperti yang disebutkan tadi bahwa hanya di kabinet Menteri Soekiman lah yang memberlakukan bagi-bagi tunjangan. Dan kemudian hal itulah yang membuat masyarakat, khususnya para buruh menentang hal tersebut karena menganggap pemerintah berlaku tidak adil. Buruh-buruh tersebut juga berdalih bahwa selama ini meski sudah bekerja keras namun nasib mereka tidak berubah.

Kemudian protes pemberian THR di kabinet tersebut merembet pada aksi mogoknya para buruh. Belum lagi tudingan yang menyebutkan bahwa soekiman bukan hanya ingin menyejahterakan PNS dengan THR, melainkan juga ada unsur politis di baliknya. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Soekiman ingin mengambil hati para PNS yang kala itu memang didominasi oleh kalangan ningrat sampai TNI. Namun lama kelamaan sepertinya protes tersebut berbuah manis karena dalam prakteknya saat ini seluruh pekerja di Indonesia sudah mendapat bagian tunjangannya setiap menjelang hari raya.

THR bahkan sudah diatur dalam undang-undang

ADVERTISEMENT

Perlu diketahui bahwa semua hal terkait THR sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jadi besaran nominal THR yang diterima oleh karyawan memang sudah ditetapkan. Untuk mereka yang masa kerjanya telah minimal satu tahun maka besaran tunjangan yang akan diterima sebesar satu bulan gaji. Sementara jika masa kerja belum mencapai 12 bulan, maka tunjangan diberikan secara proporsional.

Dalam undang-undang tersebut juga telah dituliskan secara jelas termasuk perhitungan besar tunjangannya. Jadi diharapkan masyarakat tidak serta merta membuat kesimpulan sendiri terkait THR. Bila memang ada yang masih belum bisa dipahami, kalian bisa langsung mempelajari isi dari undang-undang tersebut. Itung-itung agar semua merasa nyaman dan tidak ada pihak yang dirugikan ya.

Berikut cara mengelola THR agar tidak cepat habis:

1. Kendalikan hawa nafsu

Pada dasarnya ada dua faktor penyebab naiknya pengeluaran, yaitu naiknya harga di sepanjang Ramadhan dan menjelang Lebaran, serta naiknya jumlah atau frekuensi pembelanjaan. Kenaikan harga atau inflasi, misalnya harga berbagai komoditas pangan, merupakan faktor eksternal yang diluar kontrol kita. Sementara kenaikan jumlah atau frekuensi pembelanjaan merupakan faktor internal yang seharusnya bisa kita kontrol.

2. Manfaatkan THR dengan bijak

Untuk menghemat pengeluaran sekaligus bisa memanfaatkan THR secara maksimal, lakukan skala prioritas. Misalnya, membayar THR orang yang bekerja untuk kita (termasuk petugas keamanan lingkungan dan pengangkut sampah), membayar zakat dan sedekah, melunasi utang, mengisi simpanan dana darurat, diinvestasikan, dan sisanya barulah bisa untuk dibelanjakan.

3. Buat perencanaan alokasi

Tetapkan alokasi dana THR yang Anda terima. Misalnya untuk ditabung, belanja keperluan Lebaran, THR untuk asisten rumah tangga, dan zakat. Sebaiknya, perencanaan ini dilakukan sebelum uang THR di tangan. Sehingga begitu cair, Anda bisa langsung membaginya ke dalam pos-pos tertentu, bukan langsung lenyap karena lebih dulu tergoda untuk membelanjakannya.

4. Sisihkan untuk ditabung

Sebelum mengalokasikan untuk berbagai keperluan di atas, Anda bisa menetapkan berapa besaran yang ingin Anda tabung. Misalnya, 10% atau 30% dari THR yang Anda terima akan disisihkan untuk menabung. Sisanya digunakan untuk berbagai keperluan hari raya.

5. Belanja seperlunya

Agar THR mencukupi dan tidak justru menguras tabungan, kendalikan keinginan Anda untuk berbelanja berbagai kebutuhan yang tidak mendesak. Misalnya, tidak menggunakan dana THR untuk memperbarui peralatan elektronik atau gadget, seperti beli smartphone terkini hanya karena tidak mau ketinggalan tren.

6. Jangan andalkan THR

Ada yang menyarankan agar kita tidak mengandalkan penghasilan tahunan (termasuk THR) untuk menutupi berbagai keperluan, terutama biaya darurat. Sebaiknya, Anda memang mengadakan alokasi dana darurat yang diisi setiap bulan untuk membiayai kebutuhan mendesak.

7. Investasi

Prioritas lainnya adalah memasukkan dana THR kamu untuk investasi. Persentasenya antara 30%-40% dari total keseluruhan. Hal ini perlu menjadi prioritas agar kita memiliki dana cadangan, sehingga kita tidak benar-benar kehabisan uang setelah hari raya.

8. Niat yang kuat

Hal paling krusial dari segala urusan menghemat ini adalah niat dari dalam diri. Tanamkan bahwa kamu betul-betul niat untuk menabung. Setiap ingin membeli sesuatu yang tidak mendesak, langsung ingat pada niatmu bahkan target yang sudah ditetapkan.

9. Membangun dana darurat

Jika Anda tidak memiliki utang apapun, maka THR tahun ini dapat digunakan untuk mulai membangun dana darurat. Dana ini dapat digunakan jika terjadi hal-hal tidak diinginkan, misalnya terkena musibah, sakit, atau kehilangan pekerjaan.

Itu dia beberapa tips / rekomendasi yang sudah kami rangkum. Jika tips atau rekomendasi diatas sangat membantu, ada baiknya bila membagikannya juga artikel ini ke teman-teman kamu yaa.

Selamat mencoba & semoga berhasil !

Sampai Jumpa di artikel Tips & Trick dan rekomendasi kami selanjutnya..

Salam Hangat…