SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Saat Pandemi Malah Semakin Boros?, Ini Tips Mengatur Keuangan Yang Baik.

Pentingnya mengelola keuangan, Ada banyak sekali manfaat yang bisa Anda dapatkan dengan mengelola keuangan yang lebih baik. Secara tidak langsung, mungkin Anda bisa mengurangi beberapa kebiasaan yang juga kurang baik bagi kehidupan Anda. Contohnya, Anda mungkin bisa saja hobi untuk minum kopi, akan tetapi karena Anda harus mengatur pengeluaran Anda berdasarkan skala prioritas, mungkin Anda bisa berhenti untuk mengonsumsi kopi, dan itu justru baik untuk kesehatan Anda.

Bukan hanya itu, mengelola keuangan pun menjadi bagian penting dari perencanaan masa depan. Apapun yang sudah Anda rencanakan, baik itu pernikahan atau mungkin membeli rumah baru, bisa Anda atasi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Berbagai jenis asuransi yang Anda miliki pun bisa sangat berguna bagi masa depan Anda.

Jadi, jangan ragu untuk memulai kebiasaan baik yang satu ini untuk mengatur keuangan Anda. Apalagi, dengan manfaat yang bisa Anda dapatkan, Anda bukan hanya bermanfaat bagi diri Anda sendiri, tetapi juga bisa berguna bagi anak cucu Anda nantinya. Untuk itu, mulailah untuk mengatur berbagai keuangan Anda sebaik mungkin demi kondisi keuangan yang lebih stabil.

Dengan kondisi keuangan yang stabil, tentunya Anda bisa mengatasi berbagai masalah yang mungkin Anda hadapi kedepannya. Bukan hanya itu, dengan melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, Anda berarti juga sudah memperbaiki pola kehidupan Anda yang mungkin tadinya cukup konsumtif, menjadi lebih hemat dan lebih teratur.

ADVERTISEMENT - CONTINUE READING BELOW

Yuk mulai berfikir, persiapkan masa depanmu, dengan mengelola keuangan dengan sebaik mungkin, jangan boros agar tercapai tujuan keuanganmu.

Untuk membantu sahabat semua dalam mengatur keuangan, berikut ini kami sudah merangkum beberapa tips yang baik, dan dapat di aplikasikan ke perencanaan keuanganmu,
Bagaimana caranya ?, yuk langsung aja kita bahas.

1. Motivasi dan niat.
Kunci awal kalau kamu ingin mengelola keuangan dan hemat pengeluaran adalah niat besar untuk melakukannya. Bukan sekedar hanya berimajinasi indah dengan penuh khayal, “wah kalo aku berhemat pasti bisa gini, pasti bisa gitu” bukan gitu ya, harus bener-bener niat.

Caranya: carilah motivasi yang kuat. Contohnya apakah ingin mengganti smartphone baru, atau ingin melunasi hutang, atau persediaan dana sampai 5 bulan ke depan, atau dana untuk jalan dengan pasangan, atau apapun itu yang bisa memotivasi diri kamu agar lebih semangat lagi untuk mengatur keuangan kamu. Sesuaikan saja dengan permasalahan keuanganmu sekarang.

ADVERTISEMENT - CONTINUE READING BELOW

Buatlah motivasi ini realistis mungkin. Yang kira-kira sesuai dengan kemampuan kamu, atau boleh juga sesedih mungkin, semakin besar pula niat kamu untuk mulai gaya hidup hemat.

2. Buat anggaran.
Anggaran adalah faktor dasar yang paling mengawali dalam upaya hemat pengeluaran ini, jadi yuk, luangkan waktu untuk menyusun anggaran dasar mu dulu, biar kamu tahu dulu pengeluaran dan pemasukan mu kemana aja dan dari mana aja.

Banyak orang malas melakukan ini. Entah mengapa, mungkin karena terlalu abstrak, atau saking banyaknya keperluan yang semuanya butuh uang. Padahal ya, enggak rumit juga loh.
Tidak perlu pusing-pusing, memikirkan bagaimana caranya, berikut ini sudah kami rangkum cara baiknya, yuk simak:
– Hitung pemasukan total
– Buat daftar kewajiban: listrik, PDAM, pulsa, cicilan utang, tagihan, SPP anak, dan lain-lain, yang rutin dikeluarkan setiap bulan
– Tentukan proporsi investasi, minimal biasanya sih 10%. Tapi kalau kamu kesulitan uang sekarang, proporsi ini bisa diturunkan. Yang penting ada
– Tentukan kebutuhan dapur, coba cek pengeluaran bulan lalu.

3. Catat pengeluaran dan pemasukan.
Mencatat setiap uang yang masuk dan keluar adalah faktor yang kedua untuk langkah hemat pengeluaran. Bebas, kamu mau mencatatnya di laptop dengan Excell, atau dengan aplikasi, atau kayak saya yang old school: pakai buku tulis, yang terpenting kamu bisa mengeceknya secara berkala, di setiap harinya.

Pengalaman saya dulu pernah mencatatnya di tembok kamar saya sendiri, agar selalu ingat dan mengerti pemasukan dan pengeluarannya, namun hal itu menurut saya tidak terlalu baik, karena terlalu mengotori tembok, dan sekarang sudah saya upgrade dan saya tulis di aplikasi pada smartphone saya, ada banyak sekali aplikasi pencatat keuangan di smartphone, dan hal itu saya rasa cukup membantu sekali dalam mencatat keuangan baik pribadi maupun bisnis.

Dan itu semua baik lagi, ke pribadi masing-masing pakai saja yang menurutmu mudah asalkan nyaman dan bisa membuatmu konsisten untuk mencatat. Temukan cara yang paling nyaman untukmu.

4. Beli sesuai kebutuhan.
Sudah punya anggaran, jangan dianggurin. Kadang gitu, sudah benar-benar serius mencatat alokasi pendanaan, ehh tiba-tiba lupa dan sama sekali tidak ingat dan akhirnya tidak diterapkan.

Terutama yang belanja groceries. Belilah sesuai kebutuhan. Meski kondisi darurat apa pun, enggak usah nyetok terlalu banyak. Akan lebih baik jika kamu menyimpan uang, ketimbang menyimpan bahan makanan.

Mungkin kamu berpikir, ah, sekarang lebih banyak belanja online, jadi enggak ada kesempatan buat window shopping, jadi gak bisa terkendali lah ya. Tapi, siapa bilang? Biar belanja online, tetep bisa window shopping kok. Coba, siapa yang hobinya scrolling marketplace, terus pencet-pencet “masukkan keranjang”, terus tahu-tahu kok checkout?, Mana bisa hemat pengeluaran kalau gini caranya, ya kan?.

Jadi selalulah bertanya pada diri sendiri, kapan pun nafsu belanja muncul: butuh beneran atau pengin aja nih? Kalau pengin aja, bisa enggak ditunda? Atau, mungkin masih ada barang sejenis di rumah yang bisa dipakai dengan fungsi sama?.

Jangan langsung checkout, tapi coba beri diri sendiri waktu untuk berpikir. Siapa tahu, besok sudah enggak pengin beli barang itu lagi.

5. Susun prioritas.
Di poin kedua di atas, ada yang namanya daftar kewajiban. Inilah yang harus diprioritaskan dalam pengeluaran kita. Yang lain, masih bisa diatur.

Adalah penting buat kita untuk bisa mengenali dan menentukan prioritas kebutuhan kita. Dengan demikian, kita pun bisa menentukan, mana yang lebih penting untuk dicukupkan lebih dulu.

6. Awas, impulsive buying!.
Nah, ini dia nih yang barusan kita sudah bahas di poin 4 tadi. Yang terjadi, justru di masa pandemi ini, banyak orang terjebak pada impulsive buying loh. Belanja cuma karena keinginan, dan bukan kebutuhan, belanja barang-barang yang kemudian kita sendiri lupa, beli karena apa. Belanja, karena orang lain pada punya juga, dan katanya bagus. Belanja, karena katanya barang ini penting digunakan selama pandemi.

Hayo, siapa yang sempat panik dan impulsive buying selama pandemi ini? Beli masker, cairan pemutih, hand sanitizer, cairan alkohol, tisu basah, tisu toilet berlebihan, sampai nyetok nerkardus-kardus di rumah?, walaupun ini dimaksudkan untuk menjaga ketersediaan stok di rumah, ternyata hal ini juga kurang baik untuk keuangan kamu, belanja secukupnya dan jangan panic buying ya.

7. Dana darurat.
Dana darurat adalah dana yang bisa kita pakai untuk keperluan-keperluan darurat. Misalnya kayak sekarang, kita kehilangan pemasukan akibat pandemi COVID-19. Kita enggak akan terlalu bingung karena ada dana darurat yang bisa dipakai untuk menyambung hidup dulu, seenggaknya sampai kita menemukan peluang baru untuk menambah penghasilan.

Makanya penting banget kan mengelola keuangan kita, dan menurut saya orang-orang yang masih bisa bertahan di pandemi covid-19 seperti ini, dan tidak merasa panik, adalah orang-orang yang sudah mempersiapkan dana darurat mereka, dan berguna banget di situasi seperti sekarang ini

Gimana nih tipsnya?, mudah dipahami ya, dan untuk melakukannya harus dengan niat yang benar-benar niat, yuk mulai mengatur keuangan lebih bijak.

Oh iyaa untuk yang penasaran, bagaimana cara menghitung angka dana darurat berapa sih yang harus kita miliki, jangan asal hitung ya, terlebih dana darurat yang harus dikumpulkan berbeda-beda jumlahnya berbanding lurus dengan status perkawinan dan pengeluaran bulanan kita, untuk yang lajang dan sudah menikah itu berbeda ya.

Yuk langsung aja ke pembahasannya :

1. Pekerja Yang Belum Menikah.
Buat kamu yang masih single dan belum berkeluarga, dana darurat yang harus disiapkan adalah 3 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, setiap bulan pengeluaran kamu mencapai 3 juta, maka kalikan dengan 3 kali pengeluaran bulanan sehingga total uang untuk dana darurat yang harus kamu sisihkan sebanyak 9 juta. Dana darurat ini bisa kamu gunakan selama 3 bulan jika suatu saat kamu terkena PHK.

2. Pekerja Yang Sudah Berkeluarga Dan Belum Memiliki Anak.
Buat kamu yang sudah menikah tapi belum memiliki anak, dana darurat yang harus disiapkan adalah 6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, pengeluaran tiap bulan mencapai angka 5 juta, maka kalikan dengan 6 kali pengeluaran bulanan sehingga total dana darurat yang harus disiapkan adalah 30 juta.

3. Pekerja Yang Sudah Berkeluarga Dan Memiliki Anak.
Untuk para pekerja yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, dana darurat yang harus disiapkan adalah 12 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, pengeluaran bulanan dalam keluarga mencapai 5 juta, maka kalikan dengan 12 kali pengeluaran bulanan sehingga total dana darurat yang harus disiapkan adalah 60 juta.

Nah itu dia cara menghitung dana darurat yang harus dikumpulkan oleh masing-masing individu, gampang kan caranya.

Itu dia beberapa tips-tips simple yang sudah kami rangkum, yuk mulai sekarang mulai mengatur keuangan kita, agar bisa tercapai tujuan-tujuan keuangan kita, lebih bijak lagi menggunakan uang. Semoga berhasil ya.

Sampai jumpa di artikel Tips and Trick kami selanjutnya, Salam hangat.